Places to See

| 0 comments ]



Oleh Rika Kumala Dewi dan Britany Alasen Sembiring

Integrasi ekonomi merupakan sebuah jalan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi bersama. Ide integrasi ini dikemukakan oleh Mundell dan Kaboub tahun 2006 yaitu tentang negara-negara yang melakukan integrasi akan memperoleh kesejateraan yang dilandasi oleh ketiadaan hamabatan-hambatan perdagangan. Tentunya konsep integrasi ini dapat kita terapkan ide ini kedalam lingkup sebuah negara Indonesia yang terdiri dari 33 propinsi dan mempunyai karakteristik yang mirip. Selanjutnya integrasi antara propinsi ini akan menjadi daya saing bangsa Indonesia di dunia.

Namun, bagaimana cara untuk melakukan integrasi dapat dilihat dari berbagai sudut yaitu konvergensi beberapa variabel makroekonomi seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi . Integrasi melalui variabel inflasi ini merupakan salah satu syarat terwujudnya sebuah keunggulan integrasi ekonomi. (Grubel, 2002 dan Ingram, 1973). Jika tingkat inflasinya serupa dan konvergen setiap periode, atau bergerak ke arah yang sama maka akan lebih mudah menentukan kebijakan moneter yang cocok da efisien bagi seluruh anggota propinsi dalam era desentralisasi.

Fokus utama inflasi berkaitan dengan kebijakan moneter yang saat ini hangat dibicarakan yaitu Inflation Targeting Framework (ITF). Sasaran ingin dicapai oleh ITF ini adalah inflasi yang rendah dan cenderung konvergen dan mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia selaku aparat. Diharapkan dengan inflasi yang rendah ini akan memacu pertumbuhan ekonomi yang terintegrasi dari sisi fiskal Indonesia sebagai negara yang merupakan gabungan dari beberapa propinsi. Selain itu, cara ini akan menghemat high cost economy yang timbul dalam perwujudan pertumbuhan sentralistik (tiap propinsi) dan menjadi daya saing Indonesia. Jadi, Inflation Targeting Framework di Indonesia ini diharapkan menjadi alat kebijakan moneter dan fiskal yang terintegrasi dalam mewujudkan sebuah integrasi ekonomi penstimulus daya saing Indonesia.


Namun, berdasarkan pembuktian empiris pada penelitian ini inflasi yang dicapai oleh Bank Indonesia dalam sistemnya selama kurun waktu 1990 sampai 2006 belumlah memenuhi target. Bahkan terjadi penyimpangan yang cukup signifikan dari tahun 2000 setelah diterapkannya ITF. Hal ini senada dengan penelitian yang diungkapkan oleh Bank Indonesia sendiri tentang track record dari pencapaian target inflasi yang semakin konvergen ternyata menjadi sebaliknya.

Melalui pendekatan ekonometri simultan, penelitian ini menggunakan model yang telah dikembangkan Taylor,(1994), Svensson (1997a), dan Ball(1997) melalui derivasi persamaan dari teori-teori makroekonomi, yaitu persamaan phillips curve, aggregate demand equation, dan central bank loss function. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penetapan ITF signifikan dalam mempengaruhi suku bunga, bahkan terindikasi berhasil menurunkan tingkat suku bunga. Namun dalam mempengaruhi kinerja makro, baik dalam hal pencapaian sasaran inflasi maupun sasaran output, implementasi ITF ini bisa dikatakan belum berhasil. Hal ini diindikasikan karena pengaruh 1) bobot yang diberikan BI terhadap output memang kecil sehingga penetapan ITF tidak segnifikan dalam mewujudkan target output, dan 2) komitmen pemerintah untuk mempercepat singkronisasi kebijakan moneter dengan kebijakan fiskalnya dan untuk mengendalikan sumber inflasi yang berasal dari faktor-faktor non-moneter (tidak dapat dikendalikan oleh kebijakan moneter) masih buruk, dan 3) masih buruknya transmisi kredit Indonesia.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hingga saat ini penerapan ITF ini masih belum memenuhi harapan pemerintah menjadi sebuah alat kebijakan yang terintegrasi baik moneter maupun fiskal dalam mewujudkan integrasi ekonomi Indonesia.

0 comments

Poskan Komentar