Places to See

| 0 comments ]


oleh Britany Alasen Sembiring

Jalur pantai timur yaitu sekitar 223 km dari kota Makasar membujur timur 10 derajat salah satu kabupaten daerah kabupaten Sulawesi yang beriklim subtropis yaitu kabupaten Sinjai. Suasana asri dan kesegaran lingkungan desa cukup terasa karena terdapat total 80 desa menghuni daerah Sinjai dengan kelembaban udara 60-87 %. Gemercik air permukaan pada sungai-sungai sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat terutama dalam mengairi pertanian yang subur.

Sinjai sangat mudah dikunjungi melalui akses infrastruktur yang cukup mendukung dan menjangkau ke pelosok-pelosok daerah pedesaan. Saluran irigasi tersebar hingga Aparang Hulu, Aparang I & III, Tonasa, Manalohe I & II, balakiang I & II, Arango I & II, Lembanna, Lompoa dan saluran irigasi Kalamisu. (dinas perhubungan Sinjai, 2008). Walaupun masih terdapat jalan yang rusak, Sinjai kini telah dilengkapi sarana jalan yang beraspal (hotmix) sepanjang 451,61 km, jalan kerikil sepanjang 406,96 km, jalan tanah 390 km dan jalan lain-lain /pavin blok sepanjang 5,65 km. Kondisi ini cukup memberikan nilai lebih bagi masyarakat yang berkunjung maupun yang tinggal di kabupaten Sinjai untuk melakukan aktivitas ekonominya. Tentunya fasilitas infrastruktur Snjai yang sedang berkembang ini dapat menjadi sorotan yang cukup menarik bagi para investor untuk menanamkan investasinya di SInjai.

Berjalannya sistem desentralisasi di Indonesia membuat kabupaten Sinjai harus bersifat dinamis namun pragmatis dalam menghadapi permasalahan-permasalahan daerah baik itu ekonomi maupun sosial dan hukum. Jumlah penduduk sekitar 250.000 jiwa menjadi sebuah keniscayaan bahwa kabupaten Sinjai dapat berkembang pesat seperti layaknya negara China di tengah-tengah krisis global ini. Kecilnya penduduk Sinjai ini sangat produktif terbukti memberikan perkembangan positif bagi pertumbuhan ekonominya. Sejak tahun 2002 sampai 2007 (5.43 %) pertumbuhan ekonomi dan PDRB Snjai tetap tinggi walaupun terjadi krisis ekonomi.(terlihat pada gambar). Ditambah lagi dengan yang paling memberikan kontribusi adalah pertanian serta industri pengolahan dengan bahan baku pertanian.




Krisis global kali ini telah memberikan dampak inflasi yang tinggi bagi semua daerah di Indonesia termasuk kabupaten Sinjai. Para ekonom banyak berpendapat bahwa daerah yang dapat survive dari krisis ini adalah yang memiliki pasar domestik yang cukup kuat yaitu dengan banyaknya industri-industri kecil dan rumah tangga dengan tingkat ketahanan yang besar. Kabupaten Sinjai termasuk daerah yang kaya akan sumber daya alam pertanian dan dikelola sendiri oleh industri-industri kecil. Terlihat pada gambar di bawah ini bahwa 59 % struktur ekonomi lebih disokong oleh pertanian.



Sesuai dengan julukan negara Agraris, begitu pula kenyataannya dengan kabupaten Sinjai. Potensi produktifitas produksi padi ini begitu melimpah menyebar di enam kecamatan kabupaten Sinjau yaitu dari Utara hingga Tellulimpoe dengan tingkat provitas lebih dari 62 % kw/ha. Tentunya petani pemilik lahan serta pengusaha bahan pokok pertanian ini cukup menikmati keuntungan saat ini hingga beberapa tahun ke depan karena tidak ada satu orang rakyat Indonesiapun tidak makan produk pertanian padi ini.
Hasil-hasil pertanian dan perkebunan seperti padi, jagung, karet kopi, kina, dsb merupakan tulang punggung pada industri-industri kecil dan rumah tangga yang banyak menyerap tenaga kerja dan keuntungan. Contoh industri-industri kecil dan rumah tangga yang sedang berkembang di kabupaten Sinjai adalah Industri gula aren, Industri kerajinan bambu, industri minyak kelapa dalam bentuk fermentasi, industri pandai besi, industri pembuatan pengupas dan pengolahan kopi menjadi kopi bubuk, pembuatan pencacah rumput guna keperluan peternakan,industri kerajinan tangan dengan mengelola kerang-kerangan yang banyak terdapat di daerah kepulauan, pembuatan kripik kedelai, kerajinan anyaman rotan dan bayak lagi industri-industri kecil yang muncul guna menambah pendapatan masyarakat Sinjai. Nilai investasi disektor industri kecil tersebut, juga mengalami perkembangan yaitu dari total nilai sebesar Rp 10.457.086,- (2003) berkembang menjadi Rp 17.599.137,oo. (kabupaten Sinjai, 2008)
Suatu fenomena yang cukup logis apabila perikanan menjadi sektor yang sangat diandalkan. Wilayah pesisir pantai dengan garis lebih dari 28 km sangat berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai perikanan tangkap, budidaya laut, budidaya tambak, budidaya air tawar dan wisata bahari. Budidaya tambak, penangkapan ikan air tawar, pembudidayaan rumput laut dan sebagainya sudah menjadi budaya. Pengusahaan ini sangat strategis karena didukung oleh prasarana yang mendukung. Tahun 2006 jumlah rumah tangga periknan sebanyak 1.156 buah dengan jumlah armada tangkap antara lain perahu motor sebanyak 1.199 unit dan perahu tanpa motor sejumlah 197 unit, motor tempel 74 perahu sebanyak 1934 unit.
Potensi perikanan, pertanian dan industri harusnya menjadi tiga serangkai yang dapat menjadi daya tawar (bargaining power) yang cukup besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan percepatan pembangunan daya saing kabupaten Sinjai. Oleh karena itu diperlukan kerjasama yang nyata antara pemerintah, masyarakat serta para investor dengan jembatan birokrasi single window ( satu atap) atau one stop service dan diawasi oleh undang-undang yang benar-benar merampung kepentingan serta kebutuhan masyarakat Sinjai sendiri.

0 comments

Poskan Komentar