Places to See

| 0 comments ]

‘Pulau penyengat’ dengan kandungan sejarah yang kental di propinsi Kepulauan Riau ini mengingatkan kita tentang kejayaan semasa perebutan kemerdekaan dahulu. Pulau Penyengat yang dilihat dari kota Tanjung Pinang ini menjadi objek wisata paling populer dan digemari karena karakteristik zaman sejarah yang dapat membawa kita seolah-olah kebali ke masa lalu.

Objek wisata lainnya seperti pantai Lagoi, Tanjung Berakit, pantai Trikora, pantai Nongsa serta Bintan Leisure Park menjadi wisata bahari ajang snorkeling karena terkenal dengan kehidupan laut yang belum terjamah oleh tangan kotor manusia. Kesemua potensi ini berada pada lokasi BBK di propinsi Kepulauan Riau yang saat ini mempunyai pertumbuhan ekonomi yang melumbung tinggi yaitu 12.09 persen pada kuartal ketiga tahun 2007 jauh meningkat dari rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 6.58 persen.

Jika dibandingkan keadaan dahulu kala, tidak terbayangkan propinsi Kepulauan Riau ini mempunyai kemajuan pembangunan ekonomi yang melejit pesat. Gerbang wisata propinsi di Indonesia ini terletak di persinggahan bibir pasar dunia yaitu lalu lintas laut dan udara yang membuat propinsi ini semakin dikenal dan berkembang.

Perkembangan ekonomi regional Kepulauan Riau ini menunjukkan gairah yang cukup menantang. Begitu besarnya potensi perdagangan dari beberapa kawasan industry pengolahan membuat inisiatif pemerintah daerah untuk meningkatkan investasi melalui kawasan perdagangan bebas (free trade zone). Kawasan perdagangan ini sering disebut pebisnis sebagai BBK (Batam, Bintan, Karimun) yang merupakan rangkaian industri pengolahan dengan lokasi semuanya terletak di propinsi Kepulauan Riau.

Tentunya perkembangan kawasan perdagangan bebas didukung pemerintah melalui undang-undang. Awalnya terdapat penyesuaian yang cukup sulit dari industri pengolahan bahan baku maupun bahan sekunder, namun seiring berjalannya waktu peran industri pengolahan ini mencapai perkembangan yang sangat pesat dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Lebih dari separuh perekonomian yaitu 58.07 persen industri pengolahan menyumbang perekonomian propinsi Kepulauan Riau pada triwulan ketiga tahun 2007. Sementara itu, sektor pertanian terutama dengan komoditas perikanan menjadi sumbangan kedua perekonomian Kepulauan Riau dan perdagangan dalam sektor bisnis barang-barang konsumsi turut menyusul dengan kontibusi 8.17 persen terhadap perekonomian daerah. Lebih jelasnya terlihat pada tabel dibawah ini;



Kawasan Bintan, Batam dan Karimun ini menjadi mesin utama penggerak ekonomi propinsi Kepulauan Riau (Kepri) dapat dibuktikan ketika sebagian besar sektor andalan Kepulauan Riau ini berada di tiga kawasan BBK tersebut sehingga, kita dapat menganalogikan BBK ini laksana ‘tambang emas Kepri’. Istilah ini cocok untuk lokasi yang merupakan madu bagi pencarian investor yang menanamkan modalnya.
Kawasan BBK ini mempunyai perkembangan sektor andalan perikanan yang dikenali dan diminati para pengunjung propinsi Kepri. Wilayah Kepri yang sebagian besar kelautan ini memberikan keniscayaan untuk memproduksi
Komoditas laut yang terbaik dan kompetitif di pasaran dan perlu dibudidayakan, contohnya budidaya ikan kakap, rumput laut, kerambah jarring apung, budidaya ikan air tawar dan air laut. Bahkan di kota Batam itu sendiri terdapat daerah pembenihan ikan kerapu yang dapat memproduksi lebih dari 1 juta benih tiap tahunnya.
Tentunya kekaguman para investor dengan potensi perikanan ini dapat dimanfaatkan pemerintah daerah untuk menarik investasi yang menguntungkan demi perkembangan produktifitas perikanan tersebut melalui skema kawasan perdagangan bebas. Dengan begitu, permintaan dunia luar dengan komoditas perikanan ini akan meningkat mengingat lokasi Kepri yang sangat strategis.

0 comments

Poskan Komentar