Places to See

| 1 comments ]

Depok, Urbanisasi Investasi?

Oleh Britany Alasen Sembiring

Jika kita ingin mengetahui sebuah daerah yang telah bermetamorfosis menjadi kota dan salah satu tujuan urbanisasi terbesarnya DKI Jakarta, maka lihatlah kota Depok. Tahun 1982,sebelum menjadi kota, daerah ini menjadi wilayah kabupaten Bogor dan masih bergantung pada pemerintah pusat. Namun setelah tahun 1999, Depok menjadi kota administratif sendiri dan memiliki pemerintah kota saat otonomi daerah berlangsung.

Kemajuan sebuah daerah adalah terjadinya trasformasi struktural perekonomian yang dari sektor primer berbasis pertanian menjadi sektor sekunder dengan basis industri atau tersier dengan basis sektor jasanya. Proses ini telah terjadi pada perekonomian kota Depok terutama disebabkan oleh faktor urbanisasi yaitu peran serta sektor primer menunjukkan stagnansi sedangkan peran sektor sekunder dan tersier mengalami peningkatan. Distribusi secara sektoral kota Depok terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2000-2005 terlihat sebagai berikut;

Sumber : Chatib, 2007

Banyak lahan investasi dari beberapa sektor, misalnya pada sektor pertanian terdapat komoditas-komoditas unggulan yang berkembang dalam perdagangan antara masyarakat kota depok sendiri ataupun daerah lainnya. Lahan investasi tersebut dapat bermacam-macam yaitu, perikanan dengan budi daya ikan darat, ikan hias, pengembangan sapi ternak, dan pengembangan buah-buahan, singkong, sayur-sayuran.

Industri pengolahan tanpa migas seperti industri bahan makanan, tekstil dan usaha kecil menegah menjadi andalan bagi ekonomi kota Depok. Hal ini dikarenakan sektor ini paling besar kontribusinya terhadap pendapatan daerah. Selain itu pengangkutan dan komunikasi senantiasa semakin berkembang menghadapi kemajuan Depok yang lebih modern.

Dengan perkembangan sektor tersier dan sekunder lebih besar pada pemasukan ekonomi kota Depok membuat pemerintah daerah lebih memprioritaskan pembangunan lebih kepada pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa. Pembangunan pasar-pasar tradisional, mall-mall di kota depok ini semakin banyak dengan variasi-variasi yang unik. Masyarakat pendatang akibat urbanisasi yang berasal dari luar daerah aupun propinsi diberikan fasilitas khusus melalui penyewaan apartemen, kos-kosan serta kontrakan dengan harga yang murah. Tahun 2005, kota depok mendapat peringkat A untuk kategori tempat investasi dengan kualitas pelayanan terbaik dari KPPOD.

Universitas Indonesia yang menjadi tempat perkuliahan favorit di Indonesia menjadi faktor peningkatan daya saing daerah kota Depok. Pasalnya, mahasiswa dari seluruh propinsi ikut perkuliahan untuk meningkatkan jenjang pendidikan mereka. Tentunya di masa depan, depok berprospek menjadi kota pendidikan terbaik karena menghasilkan sumber daya manusia dengan kualitas tinggi.

Posisi depok yang dekat dengan perlintasan jalur Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi membuat daerah ini cukup dipadati oleh kendaraan-kendaraan pribadi maupun umum setiap hari. Oleh karena itu masalah kemacetan juga menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah kota Depok.

Dari semua potensi investasi kota depok, sayangnya sumber investasi tersebut kepanyakan dari proses urbanisasi. Namun, proses urbanisasi yang terus menerus terjadi membuat masalah baru bagi kesejahteraan kota Depok terutama masalah pemukiman. Kondisi pembangunan perumahan dan permukiman di Kota Depok yang mencapai 54,76% dari luas wilayah di Depok 20.029 ha meningkatkan tuntutan kebutuhan fasilitas yang tertata dengan baik. Hanya 40 % yang sudah tertata dengan baik sedangkan 60 % belum tertata dengan baik.

Kepastian hukum dan politik kota depok ini masih belum terkelola dengan baik karena masih banyaknya oknum yang berkepentingan. Perselisihan partai-partai politik seringkali menciptakan iklim yang kurang kondusif untuk berinvestasi. Selain itu, tenaga kerja kota Depok yang sebagian besar berada di Jakarta membuat tenaga kerja menjadi langka dan biaya tenaga kerja yang dihadapi oleh para perusahaan-perusahaan cukup mahal dan menjadi penghambat investasi yang cukup signifikan.

Semua masalah-masalah yang menghambat investasi tersebut merupakan prioritas yang harus diperhatikan pemerintah kota Depok. Pemberdayaan masyarakat melalui industri pengolahan dengan pengembangan perdagangan dapat membuat Depok kaya akan lahan investasi. Sebaiknya diberikan fasilitas kredit yang lancar bagi para UKM sehingga bisnis tersebut dapat meyerap tenaga kerja menjadi lebih baik. Kemudian, dari segi internal pemerintahan kota depok perlu diberikan training khusus atau manajemen pemerintahan yang lebih baik antara legislatif, yudikatif dan eksekutif. Tata ruang lahan pemukiman yang baik dan memperhatikan lingkungan diperlukan untuk menjaga agar kepadatan penduduk di Depok tidak lagi menjadi masalah. Tentunya penanganan semua masalah ini membutuhkan komitmen pihak-pihak seperti pemerintah kota, masyarakat serta pebisnis dalam membangun ekonominya menjadi lebih baik. Investasi di Depok diharapkan tidak lagi karena urbanisasi tetapi karena kemandirian ekonomi kota depok itu sendiri.


1 comments

Markus mengatakan... @ 6 September 2008 07.05

wooooyoooo.......!!!!

Poskan Komentar